Tips Mencegah Beser dalam Perjalanan Mudik, Hindari Makanan dan Minuman Ini
Kondisi beser atau sering buang air kecil tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tentunya hal ini juga akan menimbulkan rasa tidak nyaman dalam perjalaKondisi...
Kumpulan artikel dan informasi terbaru Politeknik Kaltara yang disajikan lebih rapi, nyaman dibaca, dan mudah dijelajahi.
Kondisi beser atau sering buang air kecil tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tentunya hal ini juga akan menimbulkan rasa tidak nyaman dalam perjalaKondisi...
Kondisi beser atau sering buang air kecil tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tentunya hal ini juga akan menimbulkan rasa tidak nyaman dalam perjalaKondisi beser atau sering buang air kecil tentu akan mengganggu aktivitas sehari-hari. Tentunya hal ini juga akan menimbulkan rasa tidak nyaman dalam perjalanan mudik.
Jangan khawatir, ada sejumlah cara yang dapat dilakukan untuk mencegah beser dalam perjalanan. Simak informasinya berikut ini.
Tips Mencegah Beser dalam Perjalanan Mudik
Untuk mencegah beser dalam perjalanan, pastikan kamu buang air kecil sebelum berangkat. Selain itu, lakukan juga beberapa hal ini:
1. Kelola Asupan Air Minum
Mengutip arsip detikHealth, Praktisi Kesehatan RS Abdi Waluyo, dr Yuhana Fitria, SpPD menyarankan agar tidak menghindari minum untuk menghindari pipis. Jadi, tetap konsumsi cairan yang cukup agar tidak dehidrasi.
Sementara, menurut ahli urologi dari RS Mayapada, dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU, bagi yang tidak berpuasa saat perjalanan mudik, minum air 1 gelas sebelum perjalanan. Saat dalam perjalanan minum air secukupnya, 1 gelas cukup jika dirasa sangat haus. Tapi biasanya ini akan menimbulkan rasa ingin buang air satu jam setelahnya.
2. Hindari Minuman yang Mengandung Diuretik
Ketahui minuman apa saja yang perlu dihindari agar tidak ingin buang air kecil lebih sering. Kopi serta minuman berkafein lainnya dan minuman berkarbonasi bisa memproduksi urin lebih banyak.
3. Hindari Makanan yang Menyebabkan Haus
Selanjutnya, makanan-makanan yang menyebabkan rasa haus juga perlu dihindari. Mengutip Drink Prime, beberapa contohnya yaitu makanan yang asin dan digoreng, camilan manis, dan kue kering.
4. Rencanakan ke Toilet
Mengutip laman AARP, pendiri dan CEO Association for Pelvic Organ Prolapse Support merekomendasikan untuk merencanakan waktu ke toilet saat dalam perjalanan. Kamu bisa meluangkan 2-4 jam sekali atau waktu yang diinginkan untuk buang air kecil ke toilet.
Bahaya Sering Menahan Buang Air Kecil
Jika sudah ingin buang air kecil, jangan paksakan untuk menahannya. Hal ini bisa berbahaya untuk kesehatan. Menurut laman Medical News Today, berikut beberapa bahaya sering menahan buang air kecil.
1. Infeksi Saluran Kemih
Dalam beberapa kasus, menahan kencing terlalu lama bisa menyebabkan bakteri berkembang biak. Hal ini bisa menyebabkan infeksi saluran kemih (ISK).
2. Kandung Kemih Meregang
Menahan kencing dalam jangka panjang secara teratur juga mungkin menyebabkan kandung kemih meregang. Kondisi ini juga bisa membuat kandung kemih sulit atau tidak bisa berkontraksi mengeluarkan air seni
3. Batu Ginjal
Selanjutnya, menahan kencing bisa menyebabkan terbentuknya batu ginjal pada orang yang memiliki penyakit ini, atau pada mereka yang mempunyai kandungan mineral tinggi dalam urin. Seringkali, kencing mengandung mineral seperti asam urat dan kalsium oksalat.
4. Kerusakan Otot Dasar Panggul
Sering menahan kencing juga bisa membahayakan otot dasar panggul. Salah satu otot tersebut adalah sfingter uretra yang mencegah urin bocor. Kerusakan ini bisa menyebabkan inkontinensia urin.
Musim pancaroba sering kali membawa tantangan kesehatan bagi banyak orang. Perubahan cuaca yang tidak menentu, ditambah dengan polusi udara yang semakin merajalela,...
Musim pancaroba sering kali membawa tantangan kesehatan bagi banyak orang. Perubahan cuaca yang tidak menentu, ditambah dengan polusi udara yang semakin merajalela, membuat tubuh rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Mengapa seperti itu? Karena pada musim pancaroba virus lebih mudah bertahan dan lebih cepat berkembang biak. Selain itu, perubahan suhu yang ekstrem membuat tubuh berusaha menyesuaikan dengan cepat sehingga imunitas tubuh kita jadi berkurang.
Penyakit yang paling sering terjadi pada musim pancaroba adalah penyakit pada sistem pernapasan seperti batuk dan pilek. Diketahui, batuk adalah reaksi alami tubuh untuk mengeluarkan benda asing dari tubuh kita, seperti virus, bakteri, debu, ataupun lendir yang diakibatkan adanya iritasi yang terjadi di saluran pernapasan atas.
Saat mengalami batuk, cobalah atasi dengan obat batuk herbal yang sudah terstandar OHT (Obat Herbal Terstandar), karena obat batuk dengan standar tersebut sudah teruji khasiat dan keamanannya secara ilmiah dengan uji praklinik.
Selain itu, proses produksi obat terstandar OHT juga sudah memiliki standar cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB). Hal tersebut menambah standar keamanan obat bagi semua kalangan, terutama bagi ibu hamil dan menyusui yang harus lebih cermat dan berhati-hati dalam memilih obat.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, OB Herbal hadir sebagai solusi bagi mereka yang membutuhkan obat batuk alami yang sudah teruji khasiat dan keamanannya secara ilmiah, tersertifikasi halal, dan efektif meredakan berbagai jenis batuk.
Berbagai keunggulan itu menjadikan OB Herbal sebagai obat batuk yang cocok bagi semua kalangan. Ditambah lagi, obat batuk tersebut tidak menyebabkan kantuk, sehingga penggunanya tidak perlu khawatir jika mengkonsumsinya pada saat beraktivitas.
Dengan kombinasi 100 persen ekstrak herbal seperti jahe, jeruk nipis, kencur, daun timi, daun mint, biji pala, akar manis, dan madu, OB Herbal memberikan sensasi rasa hangat di tenggorokan dan melegakan pernafasan. Seluruh kandungan bahan herbal yang ada di OB Herbal membuatnya efektif untuk mengobati batuk, mengatasi iritasi, dan nyeri pada tenggorokan.
Sebagai informasi, OB Herbal diproduksi oleh PT Deltomed Laboratories yang merupakan salah satu perusahaan herbal modern terbaik di Indonesia yang sudah berpengalaman lebih dari 45 tahun di industri obat herbal modern.
Perusahaan tersebut sudah memenuhi standar good manufacturing practice (GMP) dan CPOTB, sehingga OB Herbal terjamin mutu dan kualitasnya.
Ditambah lagi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta telah menguji kualitas, manfaat, dan keamanan obat tersebut yang menjadikannya obat batuk dengan sertifikasi OHT.
Perlu diketahui, OB Herbal hadir dalam berbagai kemasan yang memudahkan penggunanya memilih sesuai kebutuhan, yakni kemasan 100 ml dan 60 ml yang ideal untuk disimpan sebagai stok di rumah, serta kemasan 30 ml yang praktis untuk dibawa bepergian atau traveling.
Untuk menambah kepraktisan, OB Herbal kini juga hadir dalam kemasan sachet sehingga mudah dibawa ke mana saja dan dapat dengan sat set dikonsumsi kapan pun dibutuhkan.
Selain itu, OB Herbal tersedia dalam berbagai varian, yakni varian Habbatussauda yang tidak hanya meredakan batuk, tetapi juga membantu meningkatkan daya tahan tubuh, serta OB Herbal Junior yang mengandung madu dan meniran untuk membantu meredakan batuk sekaligus melegakan tenggorokan dengan rasa yang disukai anak-anak.
Nah, sekarang tak perlu khawatir dengan tantangan kesehatan saat musim pancaroba. Sedia selalu OB Herbal, cara sat set redakan batuk!
Dehidrasi merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi selama bulan Ramadan. Hal ini terjadi lantaran seseorang yang berpuasa tidak menerima asupan makanan dan...
Dehidrasi merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi selama bulan Ramadan. Hal ini terjadi lantaran seseorang yang berpuasa tidak menerima asupan makanan dan minuman sama sekali selama 12 jam lebih.
Spesialis gizi dr Johanes C Chandrawinata, SpGK, menegaskan pentingnya rehidrasi tubuh dengan air putih saat berbuka puasa. Menurutnya, air putih adalah pilihan terbaik dibandingkan minuman manis.
"Pada saat buka puasa, usahakan rehidrasi tubuh dulu dengan minum air. Air putih saja atau jangan yang terlalu manis, nanti menambah asupan kalori," ujar dr Johanes kepada detikcom, Sabtu (22/2/2025).
Mengonsumsi minuman yang terlalu banyak mengandung gula tambahan, menurutnya, tidak baik bagi tubuh dan bisa meningkatkan risiko kesehatan.
Jika ingin mengonsumsi sesuatu yang manis saat berbuka puasa, dr Johanes menyarankan untuk memilih buah-buahan. Rasa manis alami dari buah dinilai lebih sehat dibandingkan minuman yang mengandung gula tambahan.
Terkait suhu minuman, dr Johanes menyatakan bahwa air dingin atau air es tidak berbahaya bagi tubuh. Namun, yang perlu diperhatikan adalah kandungan gula dalam minuman yang dikonsumsi.
"Tidak ada masalah. Minum air es boleh, tapi kalau air pakai gula tentunya itu menambah kalori, bisa mengakibatkan kegemukan," tutupnya.
Dengan demikian, air putih tetap menjadi pilihan utama untuk berbuka puasa agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik.
Kolang-kaling cukup populer sebagai salah satu bahan campuran minuman segar selama ramadan. Ada juga yang menganggap bahwa kolang-kaling memiliki banyak nutrisi...
Kolang-kaling cukup populer sebagai salah satu bahan campuran minuman segar selama ramadan. Ada juga yang menganggap bahwa kolang-kaling memiliki banyak nutrisi yang bagus untuk kesehatan.
Di antaranya terkait sifat anti-inflamasi atau antiradang, yang membuat kolang-kaling diyakini bisa membantu dalam meredakan nyeri lutut atau sendi. Lalu, apakah anggapan masyarakat tersebut benar adanya?
Menjawab hal ini, spesialis gizi klinis dari Mayapada Hospital Kuningan, Jakarta Selatan, dr Oki Yonatan Oentiono, SpGK, PNS (Physician Nutrition Specialist) membenarkan bahwa kolang-kaling memiliki efek anti-radang.
"Saya memang pernah baca soal itu ya, (kolang-kaling) mengurangi nyeri sendi, nyeri rematik, nyeri pengapuran, buat sakit di lutut. Kalau kita lihat memang di kolang-kaling itu ada kandungannya galaktomanan, bisa buat apa? Anti-nyeri, anti-radang," kata dr Oki saat berbincang dengan detikcom, Jumat (7/3/2025).
Namun demikian, dr Oki menambahkan, belum ada penelitian yang membuktikan secara spesifik bahwa kandungan dalam kolang-kaling mampu mengobati nyeri lutut atau sendi.
"Memang dari sisi kedokteran, hasil uji cobanya menyebutkan kalau kolang kaling ini punya efek anti-radang atau anti-inflamasi. Tapi kalau spesifik untuk (mengobati) nyeri sendi, peradangan sendi, belum ada tadi," katanya.
Pelaksanaan Ujian Seminar Prodi Promosi Kesehatan Pada Hari...
Pelaksanaan Ujian Seminar Prodi Promosi Kesehatan Pada Hari Selasa/04/2025
Pelaksanaan Kegiatan Monev PKL Prodi Keperawatan Pada Hari...
Pelaksanaan Kegiatan Monev PKL Prodi Keperawatan Pada Hari Senin/03/2025